Warga Pesisir Barat tak punya air bersih (Enrico Ngantung/iNews)

PESISIR BARAT, iNews.id - Ratusan warga di Kecamatan Pesisir Utara, Kabupaten Pesisir Barat, mengeluhkan proyek air bersih yang terbengkalai. Akibatnya, seluruh warga di Pemangku II, Dusun Kuta Kawak, Pekon Padang Rindu, tak kunjung menikmati air bersih yang mereka impikan sejak lama.

Menurut warga setempat bernama Hafzi, pada 2018 silam pipa air bersih telah masuk ke dusun mereka. Namun, sejak dibangun hingga detik ini, proyek yang didanai dana desa TA 2018 itu tak pernah berfungsi. Proyek itu terbengkalai dan belum pernah diserahterimakan kepada masyarakat.

Hafzi menambahkan, meskipun dana proyek air bersih ratusan juta bisa dibilang mubazir pada 2018, Pemprov Lampung kembali mengalokasikan proyek PAMSIMAS (Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat) ke titik yang sama pada 2020.

Sayangnya, nasib warga Kota Kawat tetap tak berubah. Pasalnya, proyek Pamsimas juga tak kunjung menghasilkan air bersih yang diharapkan masyarakat.

Akibatnya, untuk memenuhi kebutuhan air minum, warga harus merogoh kocek Rp2.000 per jeriken kecil. Selain itu, warga terpaksa berjalan kaki satu kilometer memikul air bersih dari Dusun Kedatuan.

Meski memiliki sumur, warga mengaku tidak bisa mengonsumsi air sumur mereka karena mengandung zat kapur yang tinggi.

"Selain mengandung kapur, air sumur kami juga terasa gatal pada kulit. Jadi banyak warga yang kena sakit kulit," kata Pipit Apriliyanti, warga Dusun Kota Kawat.

Seraya mengeluhkan proyek air bersih dan Pamsimas yang terbengkalai, Pipit dan Hafzi serta ratusan warga lainnya tetap berharap air bersih yang layak konsumsi bisa segera mengalir ke kampung mereka.

"Biar kami tidak perlu membeli air bersih lagi. Supaya lebih bersih juga lingkungan kami," kata Pipit.

Suasana Pekon Padang Rindu, Pesisir Barat, Lampung (Enrico Ngantung/iNews)

Sementara itu, terkait dugaan penyimpangan proyek air bersih yang bersumber dari dana desa TA 2018, Sekretaris LHP (Lembaga Himpun Pemekonan) Pekon Padang Rindu Epidar mengatakan, pekerjaan itu dilakukan asal-asalan. Sebab, pipa saluran utama sepanjang 600 meter yang menuju Dusun II tidak pernah ditanam pada parit galian sebagaimanamestinya.

“Pipa saluran utama justru dimasukan ke got lama yang sudah kering lantas ditimbun tanah begitu saja,” ujar Epidar. Padahal, lanjut dia, proyek air bersih tersebut mengalokasikan dana untuk pekerjaan galian.

Dia menambahkan, pekerjaan yang terbengkalai dan tak pernah berfungsi ini belum pernah diserahterimakan kepada warga masyarakat Pekon Padang Rindu.

“Jadi tidak ada pertanggungjawaban sama sekali kepada warga juga kepada kami di lembaga himpun pemekonan,” kata Epidar.

Dikonfirmasi terpisah, Peratin Padang Rindu Khairil Anwar membenarkan terbengkalainya pekerjaan penyediaan air bersih di Dusun II Kota Kawat. Dia mengatakan, mangkraknya pekerjaan tersebut disebabkan rendahnya debit air dari saluran utama.

Khairil membantah dugaan penyimpangan dalam proyek ini. 

Meski  demikian, dia tidak dapat menunjukkan bukti berupa APBDes maupun dokumen resmi lainnya yang memuat besaran dana serta volume pekerjaan. 

“Datanya tidak ada sama saya," katanya.

Saat ditunjukkan salinan APBDes yang beredar di tengah masyarakat, Khairil Anwar membantah semua angka-angka yang tertera pada dokumen tersebut. Meski membantah APBDes versi masyarakat, namun Khairil tidak bisa menunjukkan APBDes versi aparatur pekon yang diakuinya lebih benar.


Editor : Nur Ichsan Yuniarto

BERITA POPULER
+
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network