Mahasiswa Unila Meninggal Penuh Luka saat Ikuti Diksar Mapala

Indra Siregar ยท Senin, 30 September 2019 - 22:01 WIB
Mahasiswa Unila Meninggal Penuh Luka saat Ikuti Diksar Mapala
Kakak korban, Gani Dewantara menunjukkan foto almarhum adiknya Aga Trias Tahta, mahasiswa Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Lampung (Unila) yang meninggal dunia saat mengikuti diksar mapala. (Foto: iNews.id/Indra

PRINGSEWU, iNews.id - Aga Trias Tahta, mahasiswa Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Lampung (Unila) meninggal dunia saat mengikuti kegiatan pendidikan dasar (diksar) yang digelar unit kegiatan mahasiswa (UKM) Pencinta Alam Unila.

Dari beberapa foto yang diterima pihak keluarga, ada sejumlah luka di tubuh korban seperti kaki, tangan dan wajah.

Sedangkan satu mahasiswa lagi hingga kini masih menjalanai perawatan intensif di Rumah Sakit Bhayangkara Bandar Lampung.

Diksar Mapala Unila itu digelar di Desa Cikoak, Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran.

Jenazah korban yang beralamat di Desa Wonodadi, Kecamatan Gading Rejo, Kabupaten Pringsewu, Lampung sudah dimakamkan pihak keluarga, Senin (30/9/2019).

Menurut kakak korban, Gani Dewantara, sebelum meninggal, adiknya berpamitan dari rumah pada Rabu (25/9/ 2019) untuk mengikuti diksar tersebut. “Setelah itu tidak ada kabar,” katanya.

Dia menuturkan, dari keterangan pihak panitia diksar adiknya jatuh dari tebing pada saat mengikuti kegiatan. “Saat itu, katanya adik saya drop. Pada waktu itu, ada panitia yang menyiram air ke muka adik saya. Katanya, masih bisa lanjut nggak. Kalau masih bisa lanjut tending saya,” katanya.

Setelah itu, kata dia, almarhum yang kondisinya masih drop dibawa ke rumah warga. “Yang buat kami heran, kenapa nggak dibawa ke puskesmas. Malahan, adik saya disuruh ikut lanjut kegiatan lagi,” ucapnya.
 
Hingga saat ini belum diketahui pasti penyebab meninggalnya putra pasangan Deny Muhtadin dan Ros itu.  

Atas kejadian itu, pihak keluarga hanya bisa pasrah dan berharap ke depan kegiatan seperti itu dapat dihilangkan karena sebelumnya sudah banyak memakan korban. 


Editor : Kastolani Marzuki