Pemuda di Lampung Timur Dipasung Lantaran Sering Mengamuk dan Membahayakan Lingkungan

Joko Joipra ยท Jumat, 25 Oktober 2019 - 13:41 WIB
Pemuda di Lampung Timur Dipasung Lantaran Sering Mengamuk dan Membahayakan Lingkungan
Junianto dipasung lantaran sering mengamuk dan membahayakan lingkungan. (Foto: iNews.id/Joko Joipra).

LAMPUNG TIMUR, iNews.id - Seorang pemuda dengan gangguan jiwa di Kecamatan Batanghari, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung dipasung di sepetak ruang kecil di sebelah kandang kambing. Menurut keluarga, pemasungan dan isolasi dilakukan lantaran kerap mengamuk, memukul dan melempari orang yang berinteraksi dengannya.

Junianto (28) warga Desa Nempirejo, Kecamatan Batanghari, Lampung Timur kini hidup dengan borgol rantai yang mengikat kaki kanannya. Borgol dilepas jika anak ke tujuh dari delapan bersaudara ini akan dimandikan dan dikawal kakaknya.

Keluarga sudah mengupayakan berbagai cara untuk mengobati Junianto baik secara medis maupun alternatif. Biaya yang dikeluarkan juga tidak sedikit, termasuk sepetak tanah sudah terjual untuk berobat.

Menurut Syahri Ramadan, kakak Junianto, adiknya pernah juga dirawat di Rumah Sakit Jiwa, Provinsi Lampung di Jalan Raya Kurungan Nyawa, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran selama tiga bulan rawat inap. Di sana, adiknya getol mengonsumsi obat.

Sebelum rawat inap, Junianto menjalani berobat jalan di RSJ ini selama kurang lebih lima tahun. Tiap dua pekan sekali, Junianto dibawa ke RSJ untuk berobat.

Usai dirawat inap, Junianto sempat menunjukkan perubahan perilaku yang tidak lagi agresif. Sayangnya sekembalinya ke rumah, dia marah-marah, teriak dan mengamuk.

Syahri mengatakan kondisi kejiwaan Junianto mulai berubah selepas pulang merantau dari ibu kota sebagai buruh bangunan sekitar tahun 2011. Dia menjadi sosok pendiam dan tiba-tiba marah.

Lambat laun perilakunya kian tak terkontrol dan kerap mengamuk. Dia melempar barang, memukul hingga sempat ingin membacok ayahnya.

“Ayah dikejar dan dia teriak mau membunuh,” katanya.

Karena perilakunya yang semakin mengkhawatirkan dan membahayakan lingkungan sekitar, keluarga memutuskan untuk memasungnya. Junianto pernah divonis oleh dokter untuk mengonsumsi obat sepanjang hidupnya.


Editor : Umaya Khusniah