Polres Pesawaran Selidiki Kematian Mahasiswa Unila yang Diduga Korban Kekerasan Senior

Gunawan Syahreza ยท Selasa, 01 Oktober 2019 - 12:24 WIB
Polres Pesawaran Selidiki Kematian Mahasiswa Unila yang Diduga Korban Kekerasan Senior
Kapolres Pesawaran AKBP Popon Ardianto Sunggoro menjelaskan mengenai penyelidikan kasus kematian mahasiswa Unila, Aga Trias Tahta di Kabupaten Pesawaran, Lampung, Selasa (1/10/2019). (Foto: iNews/Gunawan Syahreza)

PESAWARAN, iNews.id – Polres Pesawaran Lampung menyelidiki kasus kematian mahasiswa Universitas Lampung (Unila), Aga Trias Tahta, yang diduga karena mengalami kekerasan dari senior. Mahasiswa jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik itu tewas saat mengikuti pendidikan dasar (diksar) pencinta alam UKM Cakrawala di Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran.

Kapolres Pesawaran AKBP Popon Ardianto Sunggoro mengatakan, dari hasil visum, dokter menemukan banyak lebam di tubuh korban. Sebagian diduga berkas tindak kekerasan. Namun, polisi belum bisa menyimpulkan karena belum mendapatkan hasil lengkap visum dari tim dokter.

“Memang kondisi mayat ini banyak lebam, tapi lebam ini ada beberapa macam, ada lebam dari lebam mayat, ada juga beberapa lebam yang diduga sepertinya ada hasil kekerasan mungkin. Kami baru menduga saja. Tapi intinya saat ini kami sedang betul-betul mendalami,” kata Kapolres, Selasa (1/10/2019).

Ardianto mengatakan, pihaknya sudah mendatangi keluarga agar jenazah korban diautopsi. Namun, pihak keluarga korban keberatan. “Meski begitu, kami akan terus mendalami penyebab meninggalnya mahasiswa tersebut,” katanya.

Dari hasil pemeriksaan polisi, ternyata ada dua mahasiswa dari jurusan yang sama juga diduga mengalami tindakan kekerasan saat mengikuti kegiatan serupa dengan korban Aga. Keduanya saat ini sedang dirawat di rumah sakit.

“Jadi ternyata bukan cuma Ega saja di sini sebagai korban. Ada dua mahasiswa lagi jadi korban. Yang satu sekarang dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara dan satu lagi di RS Malahayati. Yang satu sampai sekarang belum sadar, yang satu sudah sadar,” katanya.

Selain itu, panitia penyelenggara kegiatan pendidikan dasar pecinta alam UKM Cakrawala tersebut juga tidak memiliki izin untuk menyelenggarakan kegiatan. Karena itu, polisi akan meminta keterangan dari panitia.

“Dari pihak penyelenggara panitia tidak ada membuat surat izin kepada kami Polres Pesawaran. Izin dari pemerintah juga nggak ada,” ujarnya.

Menurut kakak korban, Gani Dewantara, sebelum meninggal, adiknya berpamitan dari rumah pada Rabu (25/9/2019) untuk mengikuti Diksar Mapala Unila di Dusun Cikoak, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran. Mereka lalu mendapat kabar dari panitia diksar bahwa adiknya jatuh dari tebing saat kegiatan diksar. Setelah itu, korban dibawa ke rumah warga.

“Yang buat kami heran, kenapa nggak dibawa ke puskesmas. Malahan, adik saya disuruh ikut lanjut kegiatan lagi hingga akhirnya meninggal,” ujarnya.

Pihak keluarga juga menilai kematian Aga Trias Tahta karena diduga mendapat tindak kekerasan dan ada perpeloncoan saat kegiatan diksar. Sebab, di tubuhnya ditemukan luka seperti di kaki, tangan, wajah, dan alat kelamin. Bahkan, ada luka bakar di sekitar wajah, serta luka sabetan di tubuh dan di kaki.

“Teman-teman satu angkatannya juga masih ada yang belum sadar karena ikut kegiatan itu,” katanya.

Keluarga korban meminta kepada pihak Unila maupun pihak fakultas serta Polres Pesawaran untuk menangani kasus itu. Mereka berharap siapa pun yang terlibat dan melakukan kesalahan sehingga menyebabkan Aga Trias Tahta tewas, harus dihukum seadil-adilnya. “Panitia harus bertanggung jawab atas kematian adik saya,” ujarnya.

Jenazah korban Aga Trias Tahta, warga Desa Wonodadi, Kecamatan Gading Rejo, Kabupaten Pringsewu, Lampung, sudah dimakamkan pihak keluarga, Senin (30/9/2019).


Editor : Maria Christina