Tarian Adat Tradisional Lampung, Ada yang Sakral Libatkan Arwah

Tim iNews.id ยท Selasa, 23 Agustus 2022 - 10:45:00 WIB
Tarian Adat Tradisional Lampung, Ada yang Sakral Libatkan Arwah
Tarian adat tradisional Lampung , Tari Sembah Pengunten (Istimewa)

BANDARLAMPUNG, iNews.id - Tarian adat tradisional Lampung merupakan kesenian khas provinsi  Sai Bumi Ruwa Jurai. Tarian ini merupakan warisan dan tradisi turun temurun nenek moyang Lampung.

Kebudayaan sangat melekat di masyarakat Lampung, begitu juga dengan tradisi, kultur serta adat-istiadat tradisional. Tarian adat Lampung ini juga penuh makna dan arti. Biasanya, tarian adat dipentaskan saat upacara data atau menyambut tamu negara.

Apa saja tarian adat tradisional Lampung, berikut ulsannya:

Tari Halibambang

Tari Halibambang merupakan salah satu tarian warisan Sekala Benghak yang ditampilkan saat acara pernikahan pada pesta Muli-Mekhanai yang diperkirakan telah ada di Liwa, Lampung dari abad VI pada masa adat Sekala Brak Lampung.

Tarian ini dinamakan Halibambang yang memiliki arti kupu-kupu yang dimana bentuk tariannya dapat diartikan sebagai kupu-kupu yang berterbangan mengibas sayapnya di alam terbuka nan berayun-ayun di alam bebas.

Tarian ini menggambarkan kesopanan, keindahan, dan keagungan seorang gadis atau putri saat menyapa tamu.

Inilah yang membuat tarian ini pada masanya dibawakan saat acara pernikahan dan sambutan pesta adat. Tari ini berkembang hingga sekarang dan sering ditampilkan pada acara penyambutan non-formal dan formal di Lampung.

Tarian adat tradisional Lampung , Tari Tupping (YouTube)
Tarian adat tradisional Lampung , Tari Tupping (YouTube)

Tari Tupping 

Tari Tupping atau tari drama khas Lampung merupakan tarian yang mempertunjukan dan menggambarkan semangat patriotisme yang membara pasukan tempur.

Tarian ini pada masanya dibawakan sebagai bentuk kesatria, pelawak, dan toko bijak serta sebagai bentuk pengawal Radin Intan pada masa penjajahan melawan Belanda. Tari ini juga memiliki makna sebagai bentuk rasa syukur masyarakat terhadap sang pencipta alam semesta.

Konon di dalam tupping-tupping tersebut memilki arwah gaib dan tidak boleh dipakai sembarang orang dan harus melakukan ritual khusus. 

Untuk jumlah penari tidak boleh lebih atau kurang dari 12 orang, karena tari tupping ini sangat sakral yang tidak boleh dimodifikasi sama sekali.

Di masa sekarang, tarian ini dibawakan sebagai penyambutan tamu, pernikahan atau bahkan hiburan masyarakat pada acara gebyar dan pesta adat lainnya.

Editor : Nur Ichsan Yuniarto

Follow Berita iNewsLampung di Google News

Bagikan Artikel: